Tampilkan postingan dengan label Culture. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Culture. Tampilkan semua postingan

Agustus 11, 2009

Pecundang

Sungguh, tak ada yang perlu disangsikan lagi
meski mimpi pun terkadang hanya dalam sehembusan nafas
lalu menjadi sirna, semuanya
menjadi hamparan ketaksengajaan yang serta-merta
berpelukan dengan angan yang tertunda

lalu aku yang masih merindu, akankah selalu setia merayu keraguan
bahkan ketika mulai meraba gerbang-Mu

ya, meski kutahu bahwa menggenggam kesetiaan hanyalah semacam dendam yang entah
hamun ada sekelumit pengharapan tengah berlabuh dalam segumpal doa
meski tak sempat kerucap,
dan keterasingan yang kian menyergap nyatalah menjadi saksi
dalam perjalanan cinta seorang pecundang
dengan hasrat kian berlumuran debu.

(hanya sekumpulan kata)

Juni 24, 2009

Chocolate "Monggo" Yogyakarta

Monggo chocolate is produced in Indonesia and prepared with the utmost respect for the tradition of the great master chocolatiers. The high quality and authentic taste of Monggo chocolate with its premium cocoa and pure cocoa butter makes it the first choice in taste.
Monggo chocolate is made from a fine selection of Javanese and Sumatran cocoa beans. All the Monggo products are 100% natural and most of the packagings are made of recycled paper. All products are made of dark chocolate (100% cocoa butter) with no added preservatives. Each flavour is a creation of our own Belgian chocolatier in our ‘maison de production' in Yogyakarta, Indonesia

The First Chocolatier of Yogyakarta

This adventure begins in Yogya in 2001 when a Belgian man, 35 years of age, arrives in Indonesia without a plan in mind. Disappointed by the lack of quality chocolate in the shops of the world's 3rd largest producer of cocoa, the Belgian decides to take matters into his own hands and endeavors to make some specialties of his low-land country using limited resources.
The first chocolate truffles to be given to his Indonesian friends caused their eyes to light up with pleasure. You have to make more they said! So off he went on his old pink vespa which he had transformed into a vending stall. Every Sunday morning he sold them at the Gajah Mada University market and outside the Kota Baru church. More for pleasure and for discovering the reactions of people rather than for making money, these interesting moments shaped the man's career and made him the first chocolatier of Yogyakarta.

To turn the dream into reality, he still needed to combine his good energy with adequate capital. The first initiative to create a store was not a great success and the project was soon abandoned. But it was a step towards the creation of the company Anugerah Mulia in 2005. This small, dynamic team of chocolate lovers created their first products under the name of Cacaomania; boxes of pralines targeted at young adults. The name was finally abandoned because it was too general - we needed a product that would fill a niche in the market before tackling a larger project.

The birth of "Monggo"

The history of Monggo debuts on a hot afternoon in a house in downtown Yogyakarta . Three of us had gathered for a brainstorming session, Edo (director), Burhan (creative) and Thierry (chocolatier). We had to find the name of a chocolate product that was typical of Yogya. It needed to be easy on the ear, not too difficult to remember and unique at the same time. A Javanese word ... After a few failed attempts, one of us came up with: Monggo ...! Yes! Yes! Eureka !
Monggo, is a Javanese word meaning "please" that people use all the time in Yogya together with a thumb gesture (similar to the sign used by hitchhikers but in a horizontal position), when someone passes in front of you, when invited into someone's house and when you leave again etc. Even those that are
non-Javanese end up using it. This little word seemed so representative of the Javanese culture, the city of Yogyakarta and a perfect name for our chocolate.


Contact:

Chocolate Monggo
CV. Anugerah Mulia
Jalan Dalem KG III / 978 - RT 043 RW 10
Kel. Purbayan Kotagede 55173
Yogyakarta
-Indonesia

Tel: +62 274 7102202
Fax: +62 274 373192
info@chocolatemonggo.com


Juni 11, 2009

Geguritan

Tan Kemba Ilining Tresna

natkala sepisanan sliramu rawuh, nimas
ing plataraning atiku iki
ngujiwating esemmu kuwawa nggonjingake jagading rasaku
kang gumulung geleng anglari sumempyoking banyu sengsem
kang dak antu ing gisiking tlaga wening
ing wewengkon gumrininging pasuryanmu

natkala sliramu anyandhi sengsem, nimas
ing wungkulaning atiku iki
nyuntak rasa anglarung wijiling tresna
ngrenda gumebyaring pangentha-entha
ngrukti jumbuhing atiku lan atimu
nyandhi pepethan kang karob segara madu

natkala atiku lan atimu amiwaha endahing tresna
lelumban ing lumahinh rembulan
sliramu oncat ngawiyat
bareng sumiliring angin sowan Hyang Widi

tinggalana aku esem ngujiwatmu, nimas
bisoa dak anggo ngeneng-enengi tangisku
tinggalana aku endahing kasulistyanmu, nimas
bakal dak larung ing sendhanging rasaku
dak aturi rawuh ing pangangenku, nimas
ing saben panrawang nglambrang ing awang-awang

paseksen tumapaking ubaya
tan kemba ilining tresna
-- Djaka Lodhang, Juni 2009

Juni 04, 2009

Aksara Jawa


TAK dapat disangkal lagi, penulisan teks dengan huruf Jawa (disebut hanacaraka) saat ini menjadi suatu kegiatan yang langka. Orangtua sudah banyak yang lupa-lupa ingat dan anak-anakya yang duduk di bangku sekolah, itupun lebih banyak di SD dan SMP, hanya mendapat pelajaran baca-tulis de ngan huruf Jawa dengan tingkat yang ala kadarnya. Artikel ini akan menunjukkan dua program komputer yang ditu jukan untuk penulisan huruf Jawa, yaitu Hanacaraka dan Carakan, serta satu huruf (font) yang bernama Hanacaraka.

Program Hanacaraka

Pemerintah telah mencoba rnelengkapi nama-nama jalan protokol, setidaknya di Kota Yogyakarta, dengan nama jalan dalam huruf Jawa. Sebut saja, Dinas Kebudayaan Propinsi DIY yang telah mengembangkan program penulisan dengan huruf Jawa yang disebut dengan Hanacaraka. Program yang dikembangkan pada tahun 2005 dan hanya dapat berjalan di lingkungan Microsoft Windows ini memiliki fasi¬litas konversi dari tulisan latin ke Jawa dan sebaliknya. Untuk menuliskan huruf Jawa sudah dise¬diakan menu pengenalan aksara. Huruf yang dipakai adalah huruf buatan Teguh Budi Sayoga).

Ada beberapa kelemahan dari program ini, di antaranya adalah proses konversi tidak selalu berjalan mulus, karena memang penulisan huruf latin tidak selamanya bisa diubah ke dalam bahasa Jawa. Kelemahan lain adalah tidak dikenalnya spasi dalam proses terjemahan. Selain itu, hasil konversi juga sulit digabung ke dalam aplikasi yang lain, meskipun sama-sama berada di bawah sistem operasi yang sama. Beberapa kekurangan ini masih dapat dimaklumi karena program Hanacaraka masih versi 1.0, namun program ini patut diacungi jempol. Program yang besarnya sekitar 20 MB ini dapat diunduh
di sini

Program Hanacaraka juga dilengkapi dengan kuis atau soal-soal latihan yang dapat dipakai untuk menguji kepiawaian penggunanya dalam membaca huruf Jawa. Setelah diinstal juga akan muncul file PDF yang terdiri atas 69 halaman yang berisi berbagai petunjuk penulisan huruf secara umum, tidak hanya ada penggunaannya di komputer. Sayangnya soal latihan ini tidak terhubung dengan Internet sehingga tidak ada update. Kalau pengguna sudah berhasil menjawab semua soal latihan, selesailah sudah latihannya. Meski demikian, ada fasilitas edit atau penambahan soal-soal yang dapat dilakukan oleh pemakai program.

Program Carakan

Program yang mirip dengan program Hanacaraka juga ada, yaitu Program Carakan dan versinya juga masih 1.0. Program ini memiliki kemampuan untuk mengubah dari tulisan latin ke huruf Jawa dan sebaliknya. Berbeda dengan program Hanacaraka, program Carakan tidak dilengkapi dengan soal-soal latihan. Meski demikian, program ini memiliki huruf Jawa yang lebih manis dibanding program Hanacaraka. Lekuknya lebih halus, tebal tipisnya terlihat manis. Sayangnya ukuran huruf tidak dapat diganti-ganti, meskipun sudah dapat terlihat bagus dan mudah terbaca.

Program yang dapat bekerja di lingkungan Microsoft Windows ini dibuat oleh Bayu Kusuma Purwanto ada tahun 2006. Cara menuliskan huruf Jawa dalam program ini adalah dengan menampilkan browser yang berisi aksara Jawa lengkap dengan perlengkapannya. Ada hanacaraka (huruf dasar), pasangan (untuk huruf mati), sandangan (tanda baca), murda (huruf kapital), dan wilangan (angka). Program Carakan menyediakan dua jendela, yang pertama dipakai untuk menuliskan kalimat dengan huruf latin, dan jendela kedua adalah untuk menam- pilkan hasil konversi. File hasil konversi dapat disimpan dan dibuka kembali. Program Carakan yang besarnya hanya sekitar 2 MB ini dapat diunduh
di sini

Huruf Hanacaraka

Cara ketiga untuk menuliskan huruf Jawa di komputer bukan dengan program yang ditulis khusus untuk itu, tetapi justru dengan file huruf atau font. File font ini berbentuk *.ttf dan dibuat pada tahun 2004 oleh Teguh Budi Sayoga dari Purwokerto. Karena berbentuk *.ttf, file ini dapat diinstal di semua sistem operasi yang mendukung font tersebut, misalnya Microsoft Windows dan keluarga Linux. Karena hanya berbentuk font dengan ukuran sekitar 80 KB, font ini dapat dipakai dengan hampir semua program aplikasi yang memerlukan font. Katakanlah di MS Windows, Anda dapat menggunakan font ini dengan program MS Write atau WordPad, MS Word, bahkan MS Excel. Sedang di lingkungan open source, Anda dapat menggunakan semua aplikasi OpenOffice untuk menulis dengan huruf Jawa.

Agaknya Teguh Budi Sayoga cukup cerdik dalam membuat font ini, karena pemakai tidak lagi dibatasi pada sistem operasi komputer, apalagi aplikasinya. Dengan font, pemakai komputer tinggal memakai program aplikasi yang disukainya. Cara penulisan sudah dipikirkan oleh Teguh, yaitu sebagian besar huruf Jawa, diwakili oleh hampir semua jenis tombol di keyboard. Sebagai contoh, ha na ca ra ka, diambil huruf pertamanya saja, menjadi h-n-c-r-k. Nah, pemakai tinggal menekan huruf maka dilayar sudah keluar huruf Jawanya. Dari pengamatan saya, hanya ada empat huruf Jawa yang tidak ada padanannya di huruf latin, yaitu da (bukan dha seperti pada kata 'dari'), nya, tha (seperti pada kata 'bethari'), dan nga. Huruf keyboard yang mewakilinya adalah f (untuk da), v (nya), q (tha), dan z (nga).

Berbagai kelengkapan penulisan lainnya, seperti huruf kapital (murda), pasangan (huruf mati), sandhangan (tanda baca), wilangan (angka), rekan (huruf khusus untuk kata asing seperti kh, f, dz, gh, dan z), sudah disediakan kombinasi penekanan tombolnya. Berbeda dengan program huruf Jawa yang sudah diuraikan di atas, kelebihan program huruf Hanacaraka ini adalah dapat digunakan dalam berbagai ukuran (font size), berbagai variasi tampilan dan cetakan (misalnya tebal, miring, garis bawah), dan sebagainya.

Baik font maupun pedomannya yang berbentuk PDF, dapat diunduh
di sini. Di situs tersebut juga ditunjukkan berbagai kesalahan dasar yang sering dilakukan oleh seorang pemula maupun contoh-contoh istilah zaman sekarang, khususnya dalam dunia ponsel, dengan huruf Jawa. Sedang dalam pedomannya yang terdiri atas 12 halaman saja, ditunjukkan berbagai cara menuliskan kata atau istilah, termasuk huruf-huruf besar yang biasa dipakai untuk menghormati orang.

Sumber: KR, 1 Juni 2009 by Wing Wahyu Winarno


Bonus:







Juni 02, 2009

Gamelan Jawa

GAMELAN JAWA

Pada jaman Kerajaan Mataram saat diperintah oleh Sultan Agung, konon kalau tidak mengerti gending (memainkan gamelan)maka belum bisa disebut orang Jawa. Demikian pula pada perkembangan di jaman kemudian, Ki Hadjar Dewantara tetap memandang peran penting gending jawa dengan menyusun buku Sastra Gending sebagai sarana pendidikan budi pekerti untuk mengimbangi sisi intelektualitas dalam penguasaan Iptek.

Sekarang, coba kita perhatikan: sarana pendidikan apakah telah terbukti efektif selain dengan Gending-gending/Gamelan, yang dapat menstimulus perkembangan otak dan saraf kita dlm rangka mendidik manusia agar mempunyai perasaan yang halus lalu kemudian dapat berbudi pekerti luhur?

Coba kita perhatikan bersama beberapa rekaman video berikut yang sedikit dapat menggambarkan 'dunia lain' perkembangan gamelan di mancanegara (selain Indonesia). kira-kira faktor apakah yang memotivasi mereka untuk 'dengan senang hati' menggeluti kebudayaan kita yang (bagi kebanyakan anak2 muda jaman sekarang) kelihatan 'kuno'.

Optreden tijdens benefiet "Aksi Mbangun Yokya "in de Indonesia ambasade in Den Haag



The group Marsudi Raras from Delft performing Asmarandana on the 100-yr old gamelan Kyai Paridjata (www.marsudiraras.org)



Gamelan Kusuma Laras, directed by I.M. Harjito. An excerpt of Gendhing Kombang Mara, pelog lima from the concert, Music and Dance of Java, performed in New York, December 1, 2007.



Pangrawit Anyar Gamelan Ensemble Also known as OMS Gamelan



Madeline's 4th grade Music class has been studying Indonesian music and presented the parents with this concert.





Gamelan Jawa - (Rotterdam) te den Haag in the Netherlands op de 4de Pasar Kliling op 29 november 2008.

Mei 20, 2009

Fear and Worry

Ya amarga wong ora ngerti sesuk, bisane mung ngira-ira, ngetung-etung nganggo sagaduking nalare, mula banjur kethukulan rasa wedi lan kuwatir. Rasa kuwatir mono ya ateges wus wiwit weruh marang isining bedhekan teka-ning dina sesuk, nek tiba begja kepriye, nanging nek tiba cilaka banjur kepriye. Saupama cilakane tiba mencit, banjur kepriye rekane. Iki sing marahi thukul rasa wedi lan kuwatir. Selagine wus ngerti sesuk wae, isih ana petungan: ukurane sepira. Nek begja sepira gedhene, nek cilaka ya sepira cilakane.

Prekara wedi lan kuwatir ngadhepi dina sesuk iku, underane sing lumrah gegayutan karo nasib panguripan kita ing sadina-dinane, kaya to prekara pangan, sandhang, papan, panggaotan, dhuwit pametu, tekan prekara kesarasan, waras, lara lan pati. Tetela underan iku kabeh dununge ana nggon ego (kepentingan pribadi).
Rasa wedi lan was kuwatir iku, yen ora dikendhaleni pancen bisa gawat. Pikiran bisa ngambra-ngambra, ati ora kepenak, mangan ora enak, ora bisa turu tansah ora jenjem, goreh, dheg-dhegan. Ora wurung rasa wedi lan kuwatir iku marakake lelara. Luwih-luwih sing pancen wus duwe bibit lelara, adhakane banjur kumat lan lelarane saya ndadi, ora mari-mari.

Ego Sentris

Pikir lan wawasan sing mung ngundher ana ing kepentingane pribadi: wiwit saka lahir, ajar mlaku, ajar guneman, sekolah, golek pegawean, nyambut gawe golek dhuwit, rabi, anak-anak, peputu, ngrembug bale omah, srawung nganti tekan mati, pancen akeh banget prekarane. Kanthi migunakake dalan bener wae, alangan lan resikone sadhabreg. Alangan/resiko iki mau mesthi nuwuhake rasa wedi lan was kuwatir. Kepentingan pribadi mono sambe kalane bisa kangelan, kisinan, kewirangan, ora kasembadan, apes, susah, nalangsa lan sapiturute. Mangka
sing tansah dikarepake yaiku: seneng, bungah, lega, kasembadan, sokur bage moncer, kena diumukake, pamer, dadi gumunane wong akeh. Dene kepleset, malah kosok balen, yaiku gagal-total, dipoyoki wong akeh.

Rasa lan pikir sing mung mburu butuhe dhewe (ego sentris), apa maneh sing nganti kebablasen: ora metung butuhing liyan, gawe rugining wong akeh, ora nyirik dosa apadene ora wedi marang Gusti Allah, yektine saya luwih gedhe maneh resikone. Apa sing dikarepake, nek bisa klakon mesthi wae bakal dinikmati dhewe, embuh ora weruh, pokoke abot telak lali sanak. Nanging kosok baline yen nganti ora bisa klakon, dadi gagal total, ora wurung abote bakal disangga dhewe, ya iki sing nukulake rasa wedi lan kuwatir mau. Apa maneh sing kulina umuk, adigang-adigung, sesongaran, sarwa egois, ngedir-edirake marang liyan, mengko tumekaning nasib ala, ora mung bakal disokurake dening wong akeh, nanging saka rasa-rumangsane dhewe wus kuwelah. Rumangsane angger wong nyawang dhewekke karo ngisin-isin. Mula Rasa wedi lan kuwatir mau kalebu wedi karo layangane dhewe.

Mbuwang Rasa Wedi lan Kuwatir

Sing duwe hipertensi, sing duwe cacat jantung, sing duwe migren, angger ketuwuhan rasa wedi lan kuwatir merga maca koran krungu kabar-kabar ana demo, ana gerakan rasia lan sabangsane kuwi, adhak ane banjur kumat. Pancen ora gampang nyingkirake rasa wedi lan kuwatir kuwi. Bab-bab sing bisa nuwuhake rasa wedi lan kuwatir mau kudu dilalekake. Rasa lan pikiran kudu dienggokake marang bab-bab sing mbungahake. Luwih prayoga yen golek hiburan liya, maca buku-buku, ngrungokake lagu lagu lawas, ndeleng sinetron lan sapanunggalane. Supaya bisa nglalekake prekara-prekara sing nggodha pikiran, luwih prayoga yen banjur gegojegan karo anak-putune dhewe, bisa cedhak karo kulawarga, tur ora gawe seriking liyan.

Tetela nggagas lan mikir prekaraprekara sing becik, sing positip, pancen kudu dikulinakake. Aja pisan-pisan seneng ngudhar gagasan ora becik, luwih prayoga ngudar gagasan sing becik-becik. Awit sing sapa was malah bisa tiwas. Kosok baline seneng mikir becik, nadyan mung kaya ngimpi, nanging sing dhasare mula wong becik, sing dhemen guneman becik bisa mandi dening guneme dhewe.

Wedi lan kuwatir kudu dibuwang sing adoh saka pikiran kita. Mula saben dinane kita kudu ditansah bungah lan gumbira. Ati bungah lan gumbira iki pancen kudu digawe, dikulinakake. Kaya dene esem, yektine ya kudu digawe lan dikulinakake. Wong mesem mono carane pipi kudu ditarik munggah sawatara. Ana sangareping kaca pangilon luwih cetha kita bisa ngulinakake kaya mengkono. Tetela wanda iki bisa luwih becik lan sumringah yen mesem, ora njegadul. Selagine disawang wale ya luwih becik. Sing nyawang mesthi bakal melu seneng. Coba yen pipi iki ditarik mudhun, ora susah ditarik wale perangan-peranganing awak iki kabeh mesthi ketarik mudhun. Iku sing marahi tuwa/ketok tuwa. Mulane sapa sing kepengin ketok awet anom, perangan-peranganing badan kudu ditarik munggah, kaya teknik masase ana ing salon-salon kecantikan. Sing seneng lan ngulinakake mesem mesthi awet enom, katon sumringah sarta ya luwih akeh tepungane jalaran akeh sing nyenengi.

Manembah sarta Asih Sesamaning Dumadi

Sing duwe watak egosentris, utawa egois, mburu butuhe dhewe, wusanane uripe tansah diuber-uber dening rasa wedi lan kuwatir. Ora mung wedi karo wong-wong liya sing ora seneng, nanging kerep-kerepe ya wedi karo layangane dhewe. Mula kuncine supaya ora wedi lan ora kuwatir, ora mung kudu pinter endha, nanging sing luwih
cespleng yaiku: kudu manembah marang Gusti Allah mituhu karo dhawuh sabdane sarta nyirik marang sawer-naning larangan sing di dhawuhake.

Kanthi mangkono kita tansah bisa ngaturake panuwun syukur marang berkahing Gusti. Berkah sing kita tampa saben dinane iku ora mung kecukupan sandhang-pangan lan papan, duwe pagawean, duwe pemetu kena kanggo ngingoni anak-bojo. Selagine bisa ambegan longgar kuwi wale wus wujuding berkah sing gedhe. Kejaba panembah, uga ingsabisa-bisa kita kudu bisa mbuktekake tansah sumuyud marang Gusti, kanthi ngenggoni watak asih sesamaning dumadi. Nresnani marang sakabehing titah, kaya dene nresnani marang awake dhewe.

Manembah marang Allah, asih sesamaning dumadi mau, bebasan ora susah cucul dhuwit, ora kelangan apa-apa. Awit kabeh-kabeh mau mesthi bisa kita lakoni jalaran Allah piyambak wus maringake. Asih iku wus diparingake Allah marang kita, sadurunge kita suwun. Ya semono gedhening sihing Allah marang umate, sauger kita padha wedi marang Panjenengane.

Sing sapa manembah marang Allah lan asih sesamaning dumadi, rasa lan pikiran wedi karo kuwatir mau ilang karepe dhewe. Ora bakal ana sing diwedeni lan ora ana maneh sing bakal dikuwatirake, awit urip kita wus sumarah/sumeleh. Wong sumeleh iku duwe rasa narima ing pandum. Tansah caos syukur marang berkahing Gusti.

Wong sing ati lan pikirane wus bisa sumarah, sumeleh, nrima ing
pandum, bakal bisa ngrasakake menawa uripe ora kamomotan, ora ana sesanggan abot, ora ngrasakake kesel. Ora nyangga utang, ora tau rumangsa dioyak-oyak mbayar wajib, jalaran samubarang wus bisa dibayar sah. Sukur bage yen ora mung wus bisa nglunasake utang, nanging isih bisa aweh dana-driyah, ora mung aweh dhuwit, dana-beya, nanging uga sing wujud aweh kabecikan marang liyan. Iku ya wus mujud ake celengan, bisa ngentheng-enthengi momotan kita. Nganti tekan ngimpi wale, ora ngimpi dioyak-oyak mbayar utang/ditagih utang, nanging ngimpi tampa hadiah utawa ngimpi nampani dhuwit saka wong-wong sing tau kepotangan. Rasane mesthi bungah, ora ana rasa wedi lan kuwatir.

Dene werdine wong sing wedi-asih marang Gusti Allah sarta asih marang sesamaning dumadi mono mesthi wae mujudake wong saleh, wong sing duwe laku utama, tansah gawe tuladha becik. Ya wus samesthine yen uga kajen-keringan ditresnani wong akeh. Ya wong mengkono kuwi sing cedhak karo Gustine, sarta binerkahan ana ing uripe. Sing sapa bisa ngaturake panuwun syukur marang Pangeran amarga wus binerkahan, uga bakal dadi lantaraning berkah mau marang sapadha-padha, nganti lakuning berkah saka Allah iku kaya mbanyu mili.

(Sumber: Jaka Lodhang No.45 tanggal 11 April 2009 dening Sudomo Sunaryo)

Mei 05, 2009

Mei yang Dibenci Pram

PRAMOEDYA membenci Mei. Semesta tahu. Tanggal 30 April lalu, sehari sebelum bulan berganti jadi Mei, Pram meninggal. Pram semasa hidupnya selalu bertentangan dengan Mei. Perlawanan terhadapnya membuat ia tersingkir. Tapi ia tetap melawan. Ia tetap menjaga keyakinannya. Tapi apa benar Pram membenci bulan Mei?

Saya kira bukan Mei benar yang ia tentang. Ingatan akan bulan itulah yang ia serang. Kita tahu sudah, di bulan ini sebuah organisasi pergerakan pertama didirikan. Tanggal pendiriannya kemudian dijadikan Hari Kebangkitan Nasional; awal tumbuhnya kesadaran berbangsa; hari nasionalisme lahir: 20 Mei. Kita pun setiap tahun memperingatinya. Konon untuk menjaga nilai-nilai perjuangan bangsa di masa lalu. Pun pada hari itu kita dilatih merenunginya.

Tapi tidak demikian Pramoedya. Baginya "Kebangkitan Nasional yang disenapaskan dengan kelahiran Boedi Oetomo (BO) terasa menyesatkan". Dalam pandangannya, BO merupakan gerakan priayi baru. Mereka baru karena kedudukan didapat berkat pendidikan Barat. Status sosial diperoleh berdasarkan kedudukan. Tapi priayi tetap priyayi. Mereka selalu mencari ketertiban dan ketenteraman dengan mengabdi pada pusat. Dan kini pusat mereka adalah pemberi nafkah: pemerintah kolonial.

Kita pun tahu, sejak berdiri BO sengaja menjauhkan diri dari kehidupan politik. Para priayi ini, sebagaimana dikatakan Miert, "beranggapan bahwa kehidupan politik yang bergelora dipersamakan dengan kekacauan, pemberontakan, dan kemelut". Sikap itu tentu tidak sesuai dengan watak orang Jawa. Saya kira hal itulah yang membuat ruang sosial dan budaya dipilih sebagai wilayah gerak: untuk menjaga ketertiban dan keserasian di Hindia.

Keadaan seperti itulah yang diinginkan olah kaum Ethis di awal abad ke-20. Harapan mereka sebagian terwujud dengan pendirian BO. Organisasi itu dianggap sebagai hasil karya pribumi yang telah mendapat pendidikan Barat. Kehadiran mereka pun tidak akan mengganggu kekuasaan pemerintah kolonial, karena Eropa adalah pusat yang telah berjasa. Budaya feodal pun dijaga. Dengan itu kita pun tahu, tak ada perubahan sikap yang tegas pada BO.

Tapi ada peringatan kebangkitan nasional pada 20 Mei. Ada tidaknya peringatan tidak menjadi persoalan benar bagi Pram. Tapi kita tahu, memilih suatu peristiwa untuk diingat berarti melupakan yang lain. Pilihan tidak pernah benar-benar hadir di ruang kosong. Ia sarat dengan pelbagai kepentingan, setidaknya kepentingan si pemilih yang juga merupakan hasil pergumulannya dengan ruang dan waktu. Ingatan ketika dipilih, berarti memaksa: apa yang mesti diingat dan mana yang harus dilupakan.

Saya kira wajar saja kalau Pram terus menentang karena kita dipaksa mengenang kekalahan sebagai kemenangan. Memperingati ketundukan sebagai kebangkitan. Mengingat keterbelengguan sebagai kebebasan.

Hanya, "kalau toh kebangkitan nasional diperlukan (...) disarankan hari kelahiran partai politik pertama: Indische Partij," tulis Pram. Pram pun sadar, "memang belum dipergunakan nama Indonesia namun sudah sejak berdiri telah menggagas nama dan masalah nasionalisme Hindia yang kelak diganti dengan nama Indonesia". Kita tahu nasionalisme Hindia yang digagasnya adalah "Hindie voor Indie"; gagasan kemerdekaan paling awal; sebuah kesadaran akan tanah air dan cita-cita membebaskan dari cengkeraman penjajah. Juga kita tahu, karena gagasannya itulah organisasi ini dianggap terlarang. Para pemimpinnya --Douwes Dekker, Tjipto Mangoenkoesoemoe, dan Soewardi Soerjaningrat-- yang sejak awal menolak tunduk dan keras menentang dibuang ke Belanda. Barangkali sikap menolak tunduk, tidak kompromis, terhadap penjajah yang membuat Pram berpikiran kalau organisasi ini benar-benar merefleksikan jiwa nasionalisme yang sesungguhnya: kemerdekaan.

Tentang kemerdekaan itu sendiri sebenarnya benih-benihnya telah tumbuh beberapa tahun sebelum BO berdiri. Ada Raden Tirto Adi Soerjo yang oleh Pram disebut Sang Pemula. Ia orang pertama yang mendirikan organisasi modern, Sjarikat Prijaji di tahun 1906. Ia pula yang menjadi pelopor pers pribumi berbahasa Melayu, Medan Prijaji, pada 1907. Melalui koran ini ia menyebarkan gagasan-gagasannya tentang kemanusiaan: tak ada perbedaan antara satu bangsa dengan bangsa lain. Semuanya memiliki hak dan kewajiban yang sama. Di Hindia kenyataannya lain. Bangsa pribumi dan bangsa asing, yang non-Eropa berada dalam penindasan Belanda. Tapi pun bukan terhadap Eropa saja ia bersikap keras. Terhadap kebudayaan Jawa yang feodal pun ia bersikap kritis. Karena mungkin feodalisme hanya akan membuat penjajahan tetap subur. Dengan itu ruang untuk kebebasan pun tergusur.

Bagi Pram, Raden Tirto dan Indische Partij lebih layak untuk diingat. Keduanya lebih mencerminkan kemerdekaan individu dan kelompok. Bebas dari cengkeraman orang lain. Tapi kita telah dipaksa mengingat BO. Mengenangnya setiap tahun. Dan mungkin seandainya, saat ini sebagian besar dari kita lebih suka berkelompok, menggantungkan diri kepada orang lain, wajar saja. Karena artefak ingatan yang dipilihkan untuk kita adalah ingatan tentang ketundukan, kepatuhan, dan kebergantungan.

Mengingat Raden Tirto dan Indische Partij berarti melawan. Karena ia tidak sesuai dengan apa yang mestinya diingat dari masa lalu. Ingatan terhadap keduanya hanya akan melahirkan pemberontakan. Karenanya kedua hal itu mesti dilupakan. Tapi Pram mengingatnya. Ia berkeras menjaga ingatannya. Bahkan dengan berani ia menyebarkan ingatannya itu. Karena itulah ia harus berhadapan dengan penguasa ingatan. Ia dianggap menentang. Tapi Pram seperti Tirto dan para tokoh IP, terus melawan. Ia tidak pernah takut. Walaupun sepertinya ia juga sadar bahwa ia tidak akan pernah menang. Ingatan terhadap masa lalunya harus kalah dengan mesin pengingat besar milik penguasa. Ia hanya punya kata.

Tapi "kata adalah senjata", kata Subcomandante Marcos. Ia pun telah menunjukkan keampuhannya. Kita tahu, ingatan Pram dipelihara oleh sebagian orang. Secara diam-diam, di tempat-tempat gelap. Mungkin mereka yang berkeras untuk menjaga ingatan itu tidak puas dengan ingatan resmi yang disebar luas.

Pramoedya meninggal sudah. Beberapa hari lagi 20 Mei. Apa masih kita akan memperingatinya?***

Disadur dari artikel: Gani A. Jaelani

Adipati Karna

Beberapa jam sebelum sebelum pagi, sebelum gelombang pertempuran meledak lagi di Kurusetra, Karna tepekur sendirian di dalam kemahnya. Istrinya tidur pulas di peraduan. Karna tahu, hidupnya tak lama lagi. Karena itu, ia menulis sepucuk surat kepada Surtikanti istrinya.
“Peramal menujum aku akan tewas dalam perang ini. Tapi jangan dengarkan mereka, Surtikanti. Dengarkanlah aku. Nasib mungkin memihak musuh. Tapi aku akan menghadapi mereka - juga bila harus melalui mati.
“Mati, saat ini, rasanya bukan lagi soalku, Istriku. Mungkin karena alasan perangku lebih besar ketimbang hidup. Atau setidaknya alasan itu adalah alasan kehidupan sendiri: aku berperang untuk mengukuhkan siapa aku. Di pagi nanti, Karna tewas atau Karna menang, keduanya akan menentukan siapa dia. Sebab, siapa sebenarnya aku, Surtikanti, selama ini, selain seorang yang tak jelas kastanya, tak jelas asal-usul, tak jelas kaumnya?

“Jangan kau sedih. Aku memang mengulang kegetiranku. Di dunia kita yang telah dinubuat ini, Istriku, seseorang hanya mendapatkan dirinya tak jauh dari pintunya berangkat. Betapa menyesakkan! Sebab itu, Istriku, aku harus membuktikan bahwa seseorang ada, seseorang menjadi, karena tindakannya, karena pilihannya - bukan karena ia telah selesai dirumuskan.
Seorang resi pernah berkata: pada mulanya adalah Sabda, dan Sabda menjadi Kodrat. Bagiku, pada mulanya adalah perbuatan. Dari perbuatan lahir pengetahuan, dan dengan pengetahuan itu aku bisa merumuskan diriku. Bagiku, Surtikanti, Kodrat adalah sesuatu yang tidak ada; dewa-dewa tak pernah menyabdakannya. Telah kuduga itu ketika namaku masih Si Radheya. Dulu.
“Kini bisa kuceritakan kepadamu apa yang terjadi pada Si Radheya, ketika ia berumur 16 tahun: hari itu ia tahu bahwa ibunya bukanlah ibunya yang sebenarnya, dan bapaknya — seorang sais — bukanlah bapaknya yang sebenarnya. Ia anak pungut, Surtikanti.
Ada yang menduga, seorang putri bangsawan tinggi melahirkan bayi yang tak dikehendaki dan membuangnya ke air. Dan itulah aku. Aku menangis ketika semua itu dituturkan padaku oleh wanita yang selama ini kusebut ibuku. Ternyata, aku bukan lagi bagian seasal dari dirinya, betapapun ikhlasnya kasih sayang.
Dan mulai saat itu, aku kembali terbuang, seorang bocah yang hanyut, di sepanjang tepian.
“Lalu kucari ilmu, istriku. Kau tahu, mengapa? Ilmu akan mengukuhkan aku bukan cuma anak suta yang hina. Meskipun kukatakan kepada Radha, ibuku, bahwa ilmu tak mengenal kasta, tak memandang harta — dan karena itu di sanalah aku akan bebas — sesungguhnya aku berjusta, juga pada diriku sendiri: diam-diam aku ingin ingkar kepada kelas orang-orang yang mengasihiku. Sebab, ternyata di dunia kita yang menyesakkan ini, Surtikanti, ilmu pun telah jadi lambang tentang mana yang rendah, mana yang tinggi.
“Aku datang berguru kepada Durna, tapi Durna menolakku karena aku bukan ningrat, bukan kesatria. Aku datang kepada Bhargawa, mengaku anak brahmana dan jadi muridnya - tapi kemudian ia mengutukku ketika ia menuduhku anak kesatria, kelas yang dibencinya itu, yang berbohong.
“Memang, setelah kukuasai semua astra dan semua senjata, aku tahu ilmu bisa melepaskan kita dari perbedaan susunan rendah dan tinggi. Tapi akhirnya hanya tindakan besar yang membebaskanku tindakan Pangeran Duryudana. Dialah yang mengangkatku jadi penguasa di Angga, istriku, dan dari sanalah aku seakan lahir kembali: kini benar aku bukan anak kasta yang dihinakan. Dan aku meminangmu.
“Ya, aku tahu mengapa Duryudana mengangkatku, ketika para Pandawa menghinaku, di pertandingan memanah di arena Hastina belasan tahun yang lalu itu; mereka menolak melawanku karena bagi mereka, anak sais tak berhak bertanding dengan anak raja.
Duryudana ingin memperlihatkan, di depan rakyat yang menonton, betapa tak adilnya para Pandawa. Dan Putra Mahkota Kurawa itu mungkin juga memperhitungkan aku bisa digunakannya buat menghadap musuhnya yang lima itu.
“Tapi apa pun niat hatinya, tindakannya adil dan kata-katanya benar: ‘Keberanian bisa datang dari siapa saja, karena seorang kesatria ada bukan hanya karena ayahbundanya, tapi toh bisa keluar dari batu gunung yang tak dikenal.
“Rasanya, akulah salah satu batu gunung itu, Surtikanti, yang menerbitkan perciknya sendiri. Inilah kemerdekaanku. Arjuna memilih pihaknya karena darah yang mengalir di tubuhnya, aku memilih pihakku karena kehendakku sendiri. Arjuna berperang untuk sebidang kerajaan yang dulu haknya, aku berperang bukan untuk memperoleh. Maka, jika aku esok mau, istriku, kenanglah kebahagiaan itu. Satu-satunya kesedihanku ialah bahwa aku tak akan lagi bisa memandangmu, ketika kau memandangku.”
Sampai di situ Karna berhenti; tangannya tergetar. Tapi segera ia mengusap busur panah di sisi duduknya. Kurusetra senyap. Malam mengerang kesakitan. Keesokan harinya, Karna memang gugur di tangan Arjuna, saudara seibunya.

September 11, 2008

Wayang, merupakan salah satu bentuk teater tradisional yang paling tua. Pada masa pemerintahan Raja Balitung, telah ada petunjuk adanya pertunjukan wayang, yaitu yang terdapat pada prasasti Balitung dengan tahun 907 Masehi, yang mewartakan bahwa pada saat itu telah dikenal adanya pertunjukan wayang. Prasasti berupa lempengan tembaga dari Jawa Tengah; Royal Tropical Institute, Amsterdam, contoh prasasti ini terdapat dalam lampiran buku Claire Holt Art in Indonesia: Continuities and Changes,1967 terjemahan Prof.Dr.Soedarsono (MSPI 2000, hal.431) sebagai berikut:

Dikeluarkan atas nama Raja Belitung teks ini mengenai desa Sangsang, yang ditandai sebagai sebuah tanah perdikan, yang pelaksanaannya ditujukan kepada dewa dari serambi di Dalinan. Lagi setelah menghias diri dengan cat serta bunga-bunga para peserta duduk di dalam tenda perayaan menghadap Sang Hyang Kudur. “Untuk keselamatan bangunan suci serta rakyat” pertunjukan (ton-tonan) disakilan. Sang Tangkil Hyang sang (mamidu), si Nalu melagukan (macarita) Bhima Kumara, serta menari (mangigal) sebagai Kicaka; si Jaluk melagukan Ramayana; si Mungmuk berakting (mamirus) serta melawak (mebanol), si Galigi mempertunjukan Wayang (mawayang) bagi para Dewa, melagukan Bhimaya Kumara.

Pentingnya teks ini terletak pada indikasi yang jelas bahwa pada awal abad ke-10, episode-episode dari Mahabharata dan Ramayana dilagukan dalam peristiwa-peristiwa ritual. Bhimaya Kumara mungkin sebuah cerita yang berhubungan dengan Bima boleh jadi telah dipertunjukan sebagai sebuah teater bayangan (sekarang: wayang purwa). Dari mana asal-usul wayang, sampai saat ini masih dipersoalkan, karena kurangnya bukti-bukti yang mendukungnya. Ada yang meyakini bahwa wayang asli kebudayaan Jawa dengan mengatakan karena istilah-istilah yang digunakan dalam pewayangan banyak istilah bahasa Jawa.

Dr.G.A.J.Hazeu, dalam detertasinya Bijdrage tot de Kennis van het Javaansche Tooneel (Th 1897 di Leiden, Negeri Belanda) berkeyakinan bahwa pertunjukan wayang berasal dari kesenian asli Jawa. Hal ini dapat dilihat dari istilah-istilah yang digunakan banyak menggunakan bahasa Jawa misalnya, kelir, blencong, cempala, kepyak, wayang. Pada susunan rumah tradisional di Jawa, kita biasanya akan menemukan bagian-bagian ruangan: emper, pendhapa, omah mburi, gandhok sen-thong dan ruangan untuk pertujukan ringgit (pringgitan), dalam bahasa Jawa ringgit artinya wayang. Bagi orang Jawa dalam membangun rumahpun menyediakan tempat untuk pergelaran wayang. Dalam buku Over de Oorsprong van het Java-ansche Tooneel - Dr.W Rassers mengatakan bahwa, pertunjukan wayang di Jawa bukanlah ciptaan asli orang Jawa. Pertunjukan wayang di Jawa, merupakan tiruan dari apa yang sudah ada di India. Di India pun sudah ada pertunjukan bayang-bayang mirip dengan pertunjukan wayang di Jawa.

Dr.N.J. Krom sama pendapatnya dengan Dr. W. Rassers, yang mengatakan pertunjukan wayang di Jawa sama dengan apa yang ada di India Barat, oleh karena itu ia menduga bahwa wayang merupakan ciptaan Hindu dan Jawa. Ada pula peneliti dan penulis buku lainnya yang mengatakan bahwa wayang berasal dari India, bahkan ada pula yang mengatakan dari Cina. Dalam buku Chineesche Brauche und Spiele in Europa – Prof G. Schlegel menulis, bahwa dalam kebudayaan Cina kuno terdapat pergelaran semacam wayang. Pada pemerintahan Kaizar Wu Ti, sekitar tahun 140 sebelum Masehi, ada pertunjukan bayang-bayang semacam wayang. Kemudian pertunjukan ini menyebar ke India, baru kemudian dari India dibawa ke Indonesia. Untuk memperkuat hal ini, dalam majalah Koloniale Studien, seorang penulis mengemukakan adanya persamaan kata antara bahasa Cina Wa-yaah (Hokian), Wo-yong (Kanton), Woying (Mandarin), artinya pertunjukan bayang-bayang, yang sama dengan wayang dalam bahasa Jawa.

Meskipun di Indonesia orang sering mengatakan bahwa wayang asli berasal dari Jawa/Indonesia, namun harus dijelaskan apa yang asli materi wayang atau wujud wayang dan bagaimana dengan cerita wayang. Pertanyaannya, mengapa pertunjukan wayang kulit, umumnya selalu mengambil cerita dari epos Ramayana dan Mahabharata? Dalam papernya Attempt at a historical outline of the shadow theatre Jacques Brunet, (Kuala Lumpur, 27-30 Agustus 19-69), mengatakan, sulit untuk menyanggah atau menolak anggapan bahwa teater wayang yang terdapat di Asia Tenggara berasal dari India terutama tentang sumber cerita. Paper tersebut di atas mencoba untuk menjelaskan bahwa wayang mempunyai banyak kesamaan terdapat di daerah Asia terutama Asia Tenggara dengan diikat oleh cerita-cerita yang sama yang bersumber dari Ramayana dan Mahabharata dari India. Sejarah penyebaran wayang dari India ke Barat sampai ke Timur Tengah dan ke timur umumnya sampai ke Asia
Tenggara.

Di Timur Tengah, disebut Karagheuz, di Thailand disebut Nang Yai & Nang Talun, di Cambodia disebut Nang Sbek & Nang Koloun. Dari Thailand ke Malaysia disebut Wayang Siam. Sedangkan yang langsung dari India ke Indonesia disebut Wayang Kulit Purwa. Dari Indonesia ke Malaysia disebut Wayang Jawa. Di Malaysia ada 2 jenis nama wayang, yaitu Wayang Jawa (berasal dari Jawa) dan Wayang Siam berasal dari Thailand. Abad ke-4 orang-orang Hindu datang ke Indonesia, terutama para pedagangnya. Pada kesempatan tersebut orang-orang Hindu membawa ajarannya dengan Kitab Weda dan epos cerita maha besar India yaitu Mahabharata dan Ramayana dalam bahasa Sanskrit.

Abad ke-9, bermunculan cerita dengan bahasa Jawa kuno dalam bentuk kakawin yang bersumber dari cerita Mahabharata atau Ramayana, yang telah diadaptasi kedalam cerita yang berbentuk kakawin tersebut, misalnya cerita-cerita seperti: Arjunawiwaha karangan Empu Kanwa, Bharatayuda karangan Empu Sedah dan Empu Panuluh, Kresnayana karangan Empu Triguna, Gatotkaca Sraya karangan Empu Panuluh dan lain-lainnya. Pada jamannya, semua cerita tersebut bersumber dari cerita Mahabharata, yang kemudian diadaptasi sesuai dengan sejarah pada jamannya dan juga disesuaikan dengan dongeng serta legenda dan cerita rakyat setempat. Dalam mengenal wayang, kita dapat mendekatinya dari segi sastra, karena cerita yang dihidangkan dalam wayang terutama wayang kulit umumnya selalu diambil dari epos Mahabharata atau Ramayana. Kedua cerita tersebut, apabila kita telusuri sumber ceritanya berasal dari India. Mahabharata bersumber dari karangan Viyasa, sedangkan Epos Ramayana karangan Valmiki.

Hal ini diperkuat fakta bahwa cerita wayang yang terdapat di Asia terutama di Asia Tenggara yang umumnya menggunakan sumber cerita Ramayana dan Mahabharata dari India. Cerita-cerita yang biasa disajikan dalam wayang, sebenarnya merupakan adaptasi dari epos Ramayana dan Mahabharata yang disesuaikan dengan cerita rakyat atau dongeng setempat. Dalam sejarahnya pertunjukan wayang kulit selalu dikaitkan dengan suatu upacara, misalnya untuk keperluan upacara khitanan, bersih desa, menyingkirkan malapetaka dan bahaya. Hal tersebut sangat erat dengan kebiasaan dan adat-istiadat setempat.

Dalam menelusuri sejak kapan ada pertunjukan wayang di Jawa, dapat kita temukan berbagai prasasti pada jaman raja-raja Jawa, antara lain pada masa Raja Balitung. Namun tidak jelas apakah pertunjukan wayang tersebut seperti yang kita saksikan sekarang. Pada masa pemerintahan Raja Balitung, telah ada petunjuk adanya pertunjukan wayang. Hal ini juga ditemukan dalam sebuah kakawin Arjunawiwaha karya Empu Kanwa, pada jaman Raja Airlangga dalam abad ke-11. Oleh karenanya pertunjukan wayang dianggap kesenian tradisi yang cukup tua. Sedangkan bentuk wayang pada pertunjukan di jaman itu belum jelas tergambar bagaimana bentuknya.

Pertunjukan teater tradisional pada umumnya digunakan untuk pendukung sarana upacara baik keagamaan ataupun adat-istiadat, tetapi pertunjukan wayang kulit dapat langsung menjadi ajang keperluan upacara tersebut. Ketika kita menonton wayang, kita langsung dapat menerka pertunjukan wayang tersebut untuk keperluan apa. Hal ini dapat dilihat langsung pada cerita yang dimainkan, apakah untuk keperluan menyambut panen atau untuk ngruwat dan pertunjukan itu sendiri merupakan suatu upacara.


(Buku Pedalangan Jilid 1, Supriyono dkk.)